Sedikit tentangku

24 Jun 2014

Jodoh tidak akan tertukar... #copas dari dakwatuna

Pertengahan tahun 2002
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Bagi sebagian orang mungkin bukan hal yang ‘wah’. Tapi bagi Indra, bisa duduk di bangku kuliah merupakan suatu hal yang luar biasa. Dulu, mungkin itu hanya mimpi baginya. Tapi lihatlah, betapa indah rencana Allah.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
Indra terus mengulang-ulang ayat ini dikala apa yang ia harapkan belum bisa dicapai. Karena mungkin terlalu banyak nikmat yang belum sempat disyukuri. Sehingga, Allah menangguhkan nikmat lainnya. Karena Ia tidak ingin hamba-Nya menjadi orang yang  kufur nikmat.
Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
“Woiiii, melamun aja!!!” tiba-tiba Panji menepuk punggung Indra dari belakang.
Barakallah akhi, semoga menjadi keluarga yang samarada alias sakinah mawaddah warahmah dan dakwah. Komplit itu baru mantap,” ucap Indra spontan untuk menutupi kegugupannya.
Alhamdulillah luar biasa, Panji memang hebat. Di usia yang masih cukup belia dia sudah berani meminang seorang akhwat yang usianya terpaut cukup jauh, lima tahun. Tapi, bukannya Indra tidak sehebat Panji. Walau mereka masih duduk di semester tiga. Indra juga sudah berkeinginan untuk menikah. Tapi ia belum cukup berani melangkah. Profesinya yang hanya sebagai guru ngaji dan marbot masjid membuat nyalinya benar-benar ciut. Indra hanya bisa berharap, suatu saat ia akan merasakan kebahagiaan yang  sama seperti Panji.
Indra bertekad bahwa tiada hari tanpa shalat Hajat. Ia kencangkan amalnya. Doanya, “Ya Allah, izinkan hamba lulus tepat waktu dan segera memiliki ma’isyah. Ya Allah, jadikan hidup hamba yang singkat ini penuh manfaat. Jangan jadikan hamba beban bagi siapa pun. Ya Allah, berilah hamba istri shalihah sebagai teman berjihad di jalan-Mu, aamiin.” Sejak saat itu, doa ini selalu menghiasi shalatnya. Bisiknya dalam hati, “My dream must be comes true,” dan Mushalla yang menjadi tempat tinggal Indra ini menjadi saksi bisu. Karena ia yakin, someone in somewhere still waiting for him. Dan Indra tidak akan membiarkannya menunggu terlalu lama.
Oktober 2004
Alhamdulillah, selangkah lebih maju menuju si wajah imut yang belum bernama. Hari ini, Indra akan diwisuda tepat waktu. Walau hanya ditemani oleh adiknya, tapi ia tetap bersyukur. Menikmati momen wisuda yang ia perjuangkan dan ini menjadi bukti bahwa Indra benar-benar selangkah lebih maju menuju si wajah imut yang sudah ia rindui sejak dua tahun yang lalu.
Lelah perjalanan dalam bus selama 8 jam terbayar sudah. Berkumpul dengan keluarga adalah nikmat yang menjadi obat lelah badan. Indra ingin berbagi kebahagiaan atas wisudanya dengan keluarganya di kampung halaman.
“Sudah wisuda, Ndra? Sudah kerja?”, tanya seorang sahabat sewaktu SMA dulu. Melihat Indra hanya menyunggingkan senyum, ia paham dan langsung menawari Indra untuk bekerja di CVnya yang letaknya cukup jauh di pedalaman. Meski awalnya Indra ragu, ia yakin setiap tempat yang Allah persembahkan untuknya adalah jalan untuk lebih dekat dengan si wajah imut, “Siapa yang tahu kalau si wajah imut itu ternyata bermukim di tengah hutan? Hahahahaha.” Indra menertawakan diri sendiri.
Akhir November 2004
Mungkin memang terlalu cepat untuk memberi kesimpulan. Tapi, hampir dua bulan berada di sini, bekerja di tengah hutan rimba ternyata membuat Indra tidak nyaman. Entah kenapa, ia merasa kalau tetap berada di sini, si wajah imut yang dinanti kian menjauh.
Beruntung, di tengah kegelisahannya, seorang paman menawari bekerja di sebuah proyek pertambangan migas di kampung asalnya yang sudah lama ditinggalkan sejak ia berusia empat tahun. “Mungkin, ini bagian dari skenario Allah bagiku untuk menuju si wajah imut. Heehee. Lagi-lagi, si wajah imut.” Indra tersenyum penuh keyakinan. Karena ayah dan ibunya juga memberikan support penuh. Dengan Bismillah, ia berangkat.
Desember 2004
Jangan tanya Indra bekerja sebagai apa? Karena kerjanya adalah sebagai pembersih roda alat berat. Jangan tanya semangatnya. Karena semangatnya luar biasa. Ia yakin, bahwa dirinya sampai di sini karena takdir. Yaitu takdir yang akan mempertemukannya dengan si wajah imut. Lebay. Indra benar-benar menunjukkan kesungguhannya untuk mengumpulkan ma’isyah agar segera menjemput si wajah imut. Apapun ia kerjakan, asalkan halalan thayyiban, maju terus.
Akhir Januari 2005
Mungkin, ini ujian pertama bagi Indra untuk menuju si wajah imut. Di tengah-tengah semangat mencari ma’isyah dan keyakinan bahwa di sinilah tempatnya mendapatkan ‘aisyah ‘si wajah imut’nya pupus sudah. Indra dan beberapa rekannya ternyata direkrut hanya untuk mengejar target saja. Kini, amplop yang berada di genggamannya berisikan gaji pertama dan terakhir sama sekali tidak membuatnya bergairah. Ia nelangsa. Rapuh.
Indra benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia malu kalau harus pulang kampung dengan tangan kosong. Maka, jadilah ia “si Cicak” masjid yang siang malamnya selalu di masjid. Ia mulai mengevaluasi diri, amalnya dan niatnya. Indra pulang ke kostnya hanya untuk keperluan makan. Bahkan, di hari Senin dan Kamis, ia berpuasa dan menghabiskan harinya di masjid. Karena ia benar-benar ingin bertaqarrub dengan Tuhannya.
***
Akhirnya, Indra memutuskan untuk berjaulah ke kota yang tempatnya hanya berjarak satu jam dari tempat proyek. “Allah, betapa indah rencana-Mu. Selangkah kudatang, berlari Kau mendekatiku.” Indra menemukan kembali markas dakwah yang sebenarnya juga sangat ia rindui. Mulai saat itu, ia kembali mengikuti kajian mingguan. Lingkaran cinta yang lama terputus, sekarang kembali ia rajut. Tekadnya bulat. Ia harus lebih baik dari kemarin dengan membuat rekam jejak dakwah di manapun kaki berpijak. Karena hidup terlalu singkat hanya untuk dunia.
Awal April 2005
Dua bulan sudah Indra menjadi pengangguran terdidik. Sedih? Pasti. Tapi, ia yakin akan rencana-Nya. Ia tetap memaksimalkan hari-harinya dengan mengajar tahsin beberapa karyawan di salah satu perusahaan di kota yang sama. Para peserta tahsin mencoba memberikan Indra honor. Tapi, ia menolak karena niat awalnya hanyalah dakwah. Untuk berbagi ilmu dan membumikan al-Qur’an.  Walau pada awalnya Indra hampir tergoda karena memang membutuhkan uang untuk sekedar menopang hidup di perantauan.
Para peserta tahsin tidak diam begitu saja melihat penolakan Indra atas honor yang mereka berikan. Mereka tetap mencoba memberikan ‘sesuatu’ yang sangat dibutuhkan oleh guru mereka, Indra.
“Ndra, aku sudah berbicara dengan bagian Personalia. Kebetulan, kami sedang membutuhkan tenaga IT. Bersediakah?” Ucap teman dekatnya yang juga binaan tahsin.
Tanpa basa basi, Indra menganguk  pasti.
“Alhamdulillah, harapan itu masih ada.” batinnya mengucap syukur.
“Tapi, kita masih tetap rutin tahsin mingguan, kan?” ucap Hendri penuh tanya.
“Yoi, Bro. Itu pasti selama nafas masih berhembus.” jawab Indra dengan senyum penuh kelegaan.
Tidak menunggu waktu lama, keesokan harinya, tepat 4 april 2005 Indra resmi menjadi salah satu karyawan di salah satu perusahaan sebagia IT support. Dengan senyum penuh bahagia, ia tatap hangatnya sinar mentari Dhuha dengan berucap penuh percaya diri, “Ya Allah, saksikanlah bahwa aku akan segera menjemput si wajah imut sebagai teman untuk berjihad di jalan-Mu”. Proposal yang berisikan biodatanya pun ia layangkan. Berharap terbang tepat ke si wajah imut yang dinanti.
Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
 24 April 2005
Sore itu, Indra duduk agak gelisah di pelataran masjid bertemankan belaian angin yang membuat rerumputan bergoyang lembut berirama, indah dipandang dan sejuk terasa. Ia sedang menunggu Murabbinya dengan sesuatu yang akan mendekatkannya dengan si wajah imut.
“Assalamualaikum, akh,” tiba-tiba sang Murabbi sudah duduk di sebelah Indra.
“Wa’alaikumsalam, ustadz.” jawabnya dengan senyum, sedikit gugup
Tanpa basa basi, Ustadz Rafiq langsung memberikan tausyiah untuk Indra guna memantapkan niatnya menggenapkan separuh diin, Menikah bukan hanya menyatukan dua insan, tapi dua keluarga besar. Menikah bukan hanya soal cinta, tapi membentuk batu bata pertama suatu peradaban. Menikah bukan hanya soal mencari pasangan hidup, tapi ingatlah bahwa ia nanti akan menjadi madrasah pertama anak-anakmu. Jika ia baik, maka baiklah generasi selanjutnya. Jika ia buruk, maka buruklah generasi selanjutnya. Singkat, namun penuh makna. Sebelum berpamitan, Indra dititipkan amplop yang berisikan biodata seorang akhwat.
Indra menatap Ustadz Rafiq hingga berlalu. Amplop yang sekarang berada di tangannya dipeluk erat. Seolah tak ada seorang pun yang boleh merebutnya. Di dalam bus perjalanan pulang yang kebenaran kosong, dengan debaran jantung yang mengalahkan deru suara bus yang melaju kencang, Indra membuka amplop dengan bismillah. Indra memejamkan mata sembari menyingkirkan foto berukuran 3×4, lalu ia buka mata sambil menyelami huruf demi huruf yang tertara rapi di atas kertas double folio.
“Mmmmm….. Tulisannya rapi. Namanya cantik. Secantik orangnya, gak ya?” batinnya terus berburu. Sambil senyum-senyum sendiri, ia lanjutkan menelusuri baris demi baris tulisan.
“Usianya empat tahun lebih tua. OK, tidak masalah. Tamatan DIII, sama sepertiku. Anak kedua. Pas banget nich, karena aku anak pertama, sukunya? Mmmm, meski berbeda jauh, asalkan tarbiyah aku yakin itu semua bisa diatasi. Awal mulai tarbiyah kok bisa sama juga ya? Waahhhh, kayaknya ini memang jodohku deh. Kriteria yang dicari sepertinya aku bisa memenuhinya.” Batinnya penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dengan seyum yang masih tetap mengembang. Beruntung, sekali lagi beruntung. Penumpang bus ini hanya Indra seorang. Kalau tidak, bisa-bisa dikara orang gila beneran.
Dan, inilah sesi terakhir dari penelusurannya. Indra harus melihat fotonya.
“Ya Allah… Dadaku semakin sesak. Debaran jantungku kian tak beraturan. Masya Allah… Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku jatuh cinta pada pas foto hitam putih berukuran 3×4 ini. Aku yakin, dia orang yang cantik. Sangat cantik.” Indra terus tersenyum bahagia. Akhirnya si wajah imut yang dinanti sekarang sudah di depan mata.
Akhir Mei 2005
“Ndra, jangan lupa. Kuatkan dengan istikharah minimal dalam dua minggu ini.” ucap Murabbi Indra dengan penuh kasih sayang.  Dan hari-hari berikutnya, ia lalui dengan doa yang sedikit memaksa, “Ya Allah, jodohkanlah aku dengan dia.” penggalan doa ini tak pernah absen dari tiap shalat yang Indra lakukan.
Indra benar-benar jatuh cinta. Ke mana-mana, amplop berisi biodata itu ia bawa. Bahkan pada saat tidur pun, ia letakkan di samping bantalnya, “Apakah cinta memang bisa membuat orang gila? Entahlah….” gumamnya dalam hati. Indra telah jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya.
Beberapa malam berlalu dengan sholat istikharah yang tidak pernah terputus. Akhirnya, Indra bermimpi melihat seorang perempuan dengan mengenakan mukenah putih sedang melakukan shalat. Dan wajah itu, wajah yang dilihat dalam mimpi itu, begitu mirip dengan wajah dalam pas foto 3×4. Keesokan harinya, dengan keyakinan penuh dan kemantapan hati yang kokoh, ia memutuskan untuk melanjutkan proses berikutnya, ta’aruf.
Awal Juni 2005
Hari ini adalah hari yang paling membosankan bagi Indra. Ia tidak masuk kerja bukan karena sakit, tapi karena malas. Ia merasa jenuh dengan rutinitas kerjanya. Pergi saat matahari baru muncul dan pulang saat matahari telah terbenam. Ia bosan. Semangatnya yang dulu menggebu-gebu lenyap seketika. Shalat malamnya hilang. Saum Senin dan Kamisnya juga hilang. Tilawahnya menurun.
Ia marah dengan dirinya sendiri. Kecewa dengan ketidakberdayaannya saat beberapa hari yang lalu Murabbinya mengatakan bahwa si akhwat mengundurkan diri dan belum siap untuk proses selanjutnya. Indra ingin menggugatnya. Ia ingin tahu alasan sebenarnya. Kalau itu karena persyaratan, ia akan berusaha sampai titik kemampuan terakhir untuk memenuhinya. Tapi, tidak. Tidak mungkin Indra melakukan itu semua. Karena itu adalah pilihan si akhwat berwajah imut dan ia harus menghormatinya. Akhirnya, dengan berat hati dan sedikit terpaksa, Indra mengembalikan biodata itu ke Murabbinya.
Seseorang yang belum pernah ia lihat batang hidungnya, telah mampu membuatnya patah hati untuk yang pertama kalinya.
Juli 2005
Luka hatinya belum sembuh. Isi kepalanya hanya ada wajah pas foto hitam putih 3×4 itu. Ia belum bisa lepas dari bayang-bayang si wajah imut. Dan sekarang, sebuah amplop lain berisi biodata baru telah ia terima. Indra hanya membacanya sekilas dan beberapa hari kemudian ia kembalikan biodata itu ke Murabbinya.
“’Afwan ustadz. Saya gak nemuin feel dengan akhwat di biodata itu.” jawabnya singkat saat ditanya alasannya kenapa menolak. Ia tahu yang ia lakukan salah. Menolak dengan alasan yang tidak syar’i itu tidak benar. Tapi, hatinya sudah terlanjur dipenuhi bayang-bayang wajah pas foto hitam putih.
Namun, niat awalnya untuk segera menikah demi menjaga kehormatan diri juga tidak bisa ia tunda terlalu lama. Akhirnya, seminggu kemudian Indra kembali ke Murabbinya. Meminta agar dicarikan kembali  seorang akhwat yang kira-kira cocok untuknya.
“Kali ini adalah yang terakhir. Jika tidak ada alasan syar’i, gak boleh nolak ya?” ucap Murabbinya dengat tegas. Namun, Indra lupa untuk kembali meluruskan niatnya dan memperbaiki visi misinya untuk menikah. Ia lupa untuk melupakan wajah dalam pas foto itu. Ia lupa untuk setidaknya menyingkirkan bayang-bayang itu.
Akhirnya, biodata baru ia terima kembali. Indra membacanya dengan perlahan dan ia hampir pingsan saat mengetahui jarak usianya lima tahun lebih tua. Ia langsung menolak. Tidak ada yang membuatnya tertarik dengan biodata itu. Tapi, ia pun sudah kehabisan alasan untuk mengembalikan proposal biodata itu, “Nggak banget deh ini akhwat.” ucapnya dalam hati. Kali ini, Indra sudah mulai menilai dari fisik. Ia hanya menilai dari sisi dunia tanpa mempertimbangkan sisi akhirat yang seharusnya menjadi pertimbangan utama.
Kebetulan, ayah dan ibunya datang dari kampung. Ia pun meminta tanggapan orangtuanya tentang calon yang ditawarkan oleh Murabbinya, “Ini lebih cocok jadi bibimu, daripada istrimu.” ucap ayahnya spontan. Indra menganguk menyetujui ucapan ayahnya sambil berucap. “Setuju, Yah. Heehee.”
Akhirnya, Indra mengajak ayah dan ibunya silaturahim ke rumah Murabbinya. Dengan bantuan mereka, Indra bisa mengembalikan biodata itu dengan cara yang halus. Dasar Indra otak kancil, “Astaghfirullah, astaghfirullah” ucapnya berulang kali. Karena ia tahu, ia kembali melakukan kesalahan yang sama: menolak tanpa alasan yang benar-benar syar’i.
Agustus 2005
Yah, wajar jika Murabbi Indra merasa kecewa. Dua proposal biodata berturut-turut ia tolak dengan alasan yang tidak syar’i.  Indra bukannya tidak tahu yang ia lakukan salah, tapi kecenderungan terhadap si wajah imut yang terbingkai dalam pas foto 3×4 itu membuatnya bersikap keterlaluan.
Sejak saat itu, Indra benar-benar kehilangan keberanian untuk menatap wajah Murabbinya. Ia merasa bersalah atas sikap ketidakdewasaannya. Namun, lingkungan kerja yang keras dan kebiasaan buruk rekan kerjanya yang suka ‘jajan’ di luaran karena jauh dari keluarga, membuatnya terus berpikir keras bagaimana menyelamatkan diri dari fitnah dan maksiat.
Ia mulai menata hatinya. Hari-harinya ia perbanyak dengan kembali memperkuat amal ibadah. Surah ar-Rahman, al-Waqiah dan al-Mulk menjadi konsumsi tambahan hariannya dan ia mulai meresapi arti dari surah-surah itu hingga harapannya muncul kembali. Indra kembali bersemangat dan mulai proaktif dalam menjemput si wajah imut yang dinanti.
Tiba-tiba, Indra teringat dengan seorang temannya waktu kuliah, Raihan. Raihan memiliki seorang adik perempuan yang insya Allah shalihah. Yang sekarang sudah duduk di bangku kuliah semester tiga. Dengan semangat dan keberanian yang maksimal, Indra menghubungi Raihan untuk mengutarakan maksudnya agar bisa dita’arufkan dengan adiknya.
Tidak menunggu lama, Raina, Raihan, dan Murabbiyah Raina menerima proposal Indra. Raina sebelumnya juga sudah mengenal Indra sewaktu pertama kali memasuki dunia kampus. Indra juga yang mengajak Raina untuk bergabung di barisan dakwah ini. Indra memang tidak salah menilai Raina. Sekarang Raina tumbuh menjadi akhwat yang cerdas, cantik, dan menjadi mahasiswa teladan di kampusnya. Raina memang anak  luar biasa dan Indra mulai mengaguminya.
Mendapatkan lampu hijau dari orang terdekat Raina, dengan hati yang mulai berbunga-bunga, Indra langsung menceritakan niatnya untuk segera menikahi Raina kepada orang tuanya. Orang tua Indra pun setuju dan mereka sangat bahagia. Akhirnya, Indra jauh melangkah lebih dekat dengan si wajah imut yang dinanti.
 7 Oktober 2005
Merasa segala sesuatunya berjalan lancar, akhirnya Indra menceritakan semua tentang Raina dan rencanya. Tidak ada yang ia sembunyikan. Walau ia tahu, sang Murabbi pasti merasa kecewa dengan tindakannya yang sudah sejauh ini tanpa sedikitpun melibatkan Murabbinya.
Namun, Indra berjanji kepada Murabbinya untuk menyegerakan pernikahannya. Agar tidak timbul fitnah di antara keduanya. Ramadhan kali ini pun ia lalui dengan berjuta harap. Semoga niat menjemput si wajah imut benar-benar terlaksana. Dan di bulan ini juga, Raina akan meminta restu kepada orang tuanya. Agar setelah lebaran sesuai rencana, mereka bisa menikah. Sungguh, hari demi hari yang ia lalui terasa lebih lama. Tak sabar ia menanti hari bersejarah itu, yang tinggal selangkah lagi.
27 Oktober 2005
Allah sangat mencintai Indra. Ia kembali diuji. Rencana yang sudah ia persiapkan matang-matang kembali harus dibatalkan. Orang tua Raina ternyata memiliki pola pikir yang berbeda. Anggapan di kampung Raina, bahwa nikah muda adalah hal yang negatif membuat orangtua Raina kekeh dengan pendiriannya untuk menolak rencana pernikahan mereka.
Bersyukur, Indra masih sadar dengan posisinya sebagai aktifis dakwah. Ia tidak mau berlama-lama dengan kondisi yang seperti ini. Dengan berat hati, Indra memutuskan hubungannya dengan Raina untuk kebaikan bersama karena menunggu Raina hingga wisuda memberi banyak potensi fitnah untuk keduanya. Indra khawatir terjebak zina hati, jika harus menunggu selama itu.
Tapi, meski patah hati untuk kedua kalinya, Indra tetap merasa lega karena ia dengan berani mengambil keputusan yang tepat, walau berat. Bagaimanapun juga, menjalin hubungan tanpa kejelasan status sama halnya dengan pacaran. Darinya banyak potensi dosa yang akan terlahir.  Indra tidak terlalu merasakan sakit hati seperti saat pertama kali patah hati. Mungkin, ini hasil pelajaran yang ia terima dari peristiwa yang lalu. Atau, mungkin Allah memberikan hati yang lebih ‘dewasa’ atas ketegasan sikapnya, memilih menjauh dari yang ia cintai demi menjaga kedekatannya dengan Rabbnya. “Alhamdulillah, semua peristiwa memang ada hikmahnya,” bisiknya dalam hati yang penuh kecintaan atas skenario Ilahi.
November 2005
Petualangan Indra untuk menjemput si wajah imut begitu melelahkan. Mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa Indra akan patah arang untuk menikah. Tapi, tidak! Itu salah besar. Indra malah semakin semangat mencari si wajah imut yang dinanti. Karena perkara ini harus segera dituntaskan.
Beberapa hari menjelang lebaran, Indra memberanikan diri menghubungi Murabbinya. Ia bercerita tentang keputusan orang tua Raina. Dengan menebalkan muka dan telinganya, ia kembali meminta untuk dicarikan calon istri.
“Saya bersedia. Tapi dengan syarat langsung ta’aruf tanpa proses pertukaran biodata terlebih dahulu.” ucap Ustadz Rafiq dengan tegas tanpa basa basi.
Indra hanya diam dan mengangguk pelan. Jangankan untuk protes, melihat wajah Murabbinya saja ia sangat malu. ia sangat malu atas lakonnya terdahulu. “Iyalah, ustadz. Whatever.” jawabnya dalam hati tanpa perlawanan. Indra benar-benar pasrah. ia menyerahkan semuanya kepada Murabbinya itu.
Secepat kilat, hanya berselang beberapa hari saja, Ustadz Rafiq sudah menemukan calon untuk Indra yang siap untuk ta’aruf. Hari-harinya berjalan seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Karena prinsipnya sekarang berbeda, “Kalau memang jodoh, pasti si wajah imut yang dinanti kian mendekat. Tapi kalau memang belum jodoh, ya sudah. Mungkin di lain waktu dan tempat, si wajah imut yang lain sudah menuggu. Ngapain terlalu dipikirkan?”
Sekarang, Indra sudah lebih pasrah, lebih ikhlas dalam menjalani skenario Ilahi yang dititipkan untuknya. Ia jauh lebih dewasa dalam menyikapi hari-harinya yang lalu. “Bisa jadi, aku memang harus menata hidupku untuk sementara waktu hingga waktu itu akan tiba dengan sendirinya. Atau, bisa jadi Allah menunda pernikahanku atas niat dan caraku yang mulai bengkok. Karena tidak akan ada keberkahan di sana.” ucapnya sekali waktu kepada sahabatnya, Akram.
Sabtu, 12 November 2005
Hari ini hujan rintik memberi nada pada indahnya pagi yang Allah persembahkan untuk hamba-Nya. Indra bersiap untuk berangkat kerja di tengah dinginnya udara dengan jiwanya yang benar-benar baru. Semangatnya yang baru. Langkahnya yang kian tertata. Tak ada lagi keluh kesah seperti dahulu, yang ada hanya Indra yang optimis karena Allah yang menjadi sandaran.
Di dalam bus karyawan menuju kantor, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menandakan ada panggilan masuk. Dalam posisi berdiri dan berdesak-desakan dengan karyawan lain, Indra tetap mengangkat ponselnya karena itu panggilan dari ustadz Rafiq, “Mungkin ada sesuatu yang penting.” batinnya.
“Hallo… Assalamualaikum, Ustadz.”
“Wa’alaikum salam, Akhi. ‘Afwan, akhwat yang ana tawarkan sama antum kemarin ana ganti ya?” ucap Ustadz Rafiq santai, tanpa beban.
“Ya, ustadz. Gak apa-apa. Ana tsiqah aja,” jawab Indra dengan malas.
“Tapi, insya Allah besok kita tetap ta’aruf, kok.” tambah ustadz Rafiq lagi.
“Kalau boleh tahu, dengan siapa ustadz?” tanya Indra datar.
“Dengan akhwat yg pertama dulu. Katanya sekarang dia udah siap.”
Degg. Tiba-tiba, jantung Indra berdegup kencang melebihi biasanya. Lidahnya kelu. Ia ingin tertawa  bahagia, tapi ia tahan. Ia ingin sujud syukur, tapi tidak bisa. Ia ingin menangis haru, tapi malu. Hatinya kembali disusupi oleh cinta yang sama. Cinta yang sudah ia ikhlaskan. Anggota tubuhnya berhenti bereaksi untuk sesaat. Ia terdiam.
“Hallo.. Hallo.. Gimana? Besok bisa? Kalau bisa ana konfirmasi sama akhwatnya?”
“Ya.. yaa.. ustadz, insya Allah ana bisa,” jawab Indra.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
13 November 2005
Selesai shalat Ashar, Indra dengan ditemani ustadz Rafiq mendatangi rumah Ustadzah Anna, Murabbiyahnya Diandra, yang akan menjadi calon istri Indra. Di sana, Diandra telah menunggu. Tidak lupa, ustadz Rafiq dan ustadzah Anna memberikan tausyiah untuk Indra juga Diandra sebelum memasuki sesi tanya jawab. Menit-menit berlalu setelah tausyiah berakhir tidak ada yang berani memulai untuk bertanya.
Indra benar-benar nervous. Ia tidak ingin kehilangan si wajah imut dalam bingkai pas foto hitam putih berukuran 3×4 untuk kedua kalinya. Ia tidak ingin memberikan pertanyaan karena takut pertanyaannya akan menyulitkan Diandra sehingga dia berubah pikiran lagi. Maka, Indra pun memilih untuk diam karena benar-benar tidak ingin kehilangan Diandra.
Ustadz Rafiq dan Ustadzah Anna pun bingung dengan sikap diam yang diambil oleh Indra dan Diandra. Sampai akhirnya, Diandra membisikkan sebuah pertanyaan kepada ustadzah Anna.
“Akhi, akhwatnya tanya kalau di rumah antum kira-kira diterima gak orang yang berjilbab lebar?”
Indra hanya tersenyum geli, “Pertanyaan klise,” batinnya.
Tapi tetap ia jawab, “Keluarga ana sudah paham dengan tarbiyah, baik orangtua maupun adik-adik.”
Dengan pertanyaan itu, Indra juga dituntut untuk memberikan pertanyaan. Ia bingung harus bertanya apa. Tanpa berpikir panjang, pertanyaan itu pun keluar dari mulutnya, “Kalau ana sih, pingin tahu aja. Kira-kira akhwatnya mau gak jadi istri saya. Kalau mau, kapan saya boleh mengkhitbah?”
Ustadz Rafiq dan Ustadzah Anna pun tertawa atas pertanyaan Indra.
“Antum gimana sih? Kok to the point gitu?” kata ustadz Rafiq masih dengan tawa kecilnya.
Loh ngapain ribet-ribet, toh saya gak keberatan sama sekali dengan akhwatnya. Jadi tinggal jawaban akhwatnya aja, kan?” Indra menjawab santai walau hatinya harap-harap cemas. Berharap agar Diandra segera menjawab dengan anggukan tanda setujunya dan cemas kalau-kalau Diandra tidak menyukai sikap to the pointnya.
Ustdzah Anna dan Diandra pamit ke belakang sebentar untuk berdiskusi. Tidak menunggu lama, berselang beberapa menit saja, Ustadzah Anna muncul dan menyampaikan keputusan Diandra, “Alhamdulilah akhwatnya setuju dan siap menuju tahap berikutnya,” ucap ustadzah Anna dengan senyum mengembang.
19 November 2005
Hari ini menjadi salah satu hari yang istimewa bagi Indra. Ia ditemani Ayah dan ustadz Rafiq berangkat menuju kampung halaman Diandra. Tanpa kendala berarti, lamarannya diterima. Kali ini, ia benar-benar mendapat restu. Ia bahagia. Ia perbanyak syukur, ia kembali mengencangkan ibadahnya. Ia tidak ingin lengah seperti sebelumnya.
10 April 2006
Hari ini Indra benar-benar memperoleh ‘aisyah si wajah imut bernama Diandra. Sejak pertemuan saat ta’aruf itu, Indra baru bertemu lagi dengan si wajah imut dua hari sebelum ijab kabul. Komunikasi ia lalui melewati ustadzah Anna. Ia benar-benar menjaga keberkahan dalam setiap proses menuju pernikahannya. Dan selama itu pula Indra masih penasaran, kenapa Diandra dulu menarik kembali biodatanya.
“Dik Dia, dulu kenapa menolak ta’aruf dan malah menarik biodata kembali ya?”
Dengan santai, Diandra menjawab simple tanpa beban, “Dulu saya menarik diri karena ada masalah keluarga yang harus diselesaikan. Saat saya sudah siap lagi, saya gak tahu kalau akan dita’arufkan dengan Mas.  Saya cuma diminta datang buat ta’aruf tanpa tahu dengan siapa akan dita’arufkan.” suara Diandra begitu lembut terdengar, indah.
“Dik Dia tahu, gak? Kalau dulu mas yang menerima biodata dengan pas foto hitam putih berukuran 3×4 itu.” ucap Indra dengan senyum yang dibalas senyuman malu-malu dari Diandra si wajah imut yang dinanti.
“Ya Allah, alangkah mudahnya Engkau mempertemukan kami. Kemudian Engkau pisahkan dan kemudian Engkau pertemukan kembali. Mahasuci Engkau, Ya Allah. Aku akan menjaga amanah-Mu dengan sungguh-sungguh.” ucap Indra sambil menatap Diandra. Ada butiran air mata yang jatuh perlahan menemani rasa syukur atas nikmat dan ujian yang silih berganti Allah berikan untuknya.
***
Diandra benar-benar datang tepat pada waktunya. Ia datang ketika Indra benar-benar ikhlas menerima siapapun. Bersyukur atas apa yang diberikan, menjaga niat dalam setiap langkahnya. Karena kesucian suatu tujuan menuntut kesucian cara dalam merealisasikannya. Seperti itulah Allah mencintai hamba-Nya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/06/24/53614/jodoh-tak-akan-tertukar/#ixzz35XpCZmVR 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

28 Nov 2013

Dakwatuna.com - Hidup itu tidak akan sepenuhnya selalu bahagia dan tidak akan selalu sedih juga. Selalu ada keseimbangan yang Allah berikan kepada setiap makhluk-Nya karena Allah mempunyai sifat Maha Adil. Kita sering melihat ada orang yang memiliki harta berlimpah, keluarga yang bahagia dan kerabat yang banyak, namun Allah memberinya penyakit yang membuatnya tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian di sisi lain, ada orang yang mungkin bisa dikatakan hartanya tidak banyak, keluarga yang biasa-biasa saja, namun memiliki fisik yang kuat. Setiap makhluk pasti di berikan ujian oleh Allah tentu saja ini dengan sebuah tujuan agar makhluk tersebut selalu mendekatkan diri kepada Allah, selalu mengingat bahwa bagaimanapun ia hanyalah seorang hamba yang harus selalu bersandar pada Rabb-Nya, yang percaya bahwa memang benar Allah akan selalu ada untuk makhluk yang memang sungguh beriman pada-Nya.
Sering kita berfikir bahwa kita adalah orany yang sangat tidak beruntung di dunia ini. Apalagi saat menginjak usia remaja, masa-masa pencarian jati diri. Semua terasa membebani dan berat. Seiringnya tumbuhnya kita, kita akan melalaui banyak ujian. Lewat dari satu ujian, maka akan datang ujian yang lainnya. Hidup memang tak akan pernah luput dari ujian. Namun, saya yakin dan percaya bahwa ini semua tergantung bagaimana kita menyikapinya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Ada satu firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 yang artinya "Allah tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya". Ayat ini menjadi penguat bagi saya bahwa apapun yang di alami oleh seorang hamba, seberat apapun ujian yang ditimpakan kepadanya, pasti ia sanggup melampaui ujian tersebut. Karena jelas bahwa Allah telah berjanji dalam Al-Qur'an bahwa setiap ujian yang diberikan kepada makhluk pastilah sesuai kemampuan makhluk-Nya
Nah letak permasalahannya adalah manusia memiliki sifat terburu-buru. Ingin semuanya cepat selesai dan yah tentu mengembalikan keadaan yang membuat hatinya merasa nyaman dan tidak terusik. Allah menguji kita tentu saja ada tujuannya dan kita sebagai makhluk juga harus selalu mengevaluasi diri. Apa yang membuat kita mengalami ujian tersebut? Apakah ini adalah punishment atas perbuatan di masa lalu? Apakah hati kita sudah bersih dari penyakit hati? Terus dan t eruslah evaluasi diri agar nanti sampai pada kesimpulan dan keyakinan bahwa Allah pasti menguji kita sesuai kemampuan kita, yakin bahwa Allah akan terus bersama kita karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang dan yakinlah bahwa kondisi apapun yang Allah beri untuk kita merupaka nkondisi terbaik untuk kita. Allah memberikannya agar kita benar-benar menjadi hambaNya yang beriman, yang berserah diri dan ikhlas.

8 Jun 2013

Anugerah Terindah.... :)


Aku ingat pertama kali kita bertemu,
hatiku berdesir, bergetar melebihi biasanya

Kubisikkan pelan-pelan dalam hati..
..semoga rasa ini bertahan selamanya
Hingga kelak kita berakhir di tempat yang dijanjikan Allah untuk kita

Aku ingat hari-hari berat yang kita lalui,
perdebatan-perdebatan antara siapa yg harus mengalah
Rasa kesal yang membuncah,
pun sampai rasa tidak percaya yang mulai berkuasa

Tapi semua selalu berakhir,
dengan aku yang kembali menggenggam tanganmu mesra
Sadar bahwa, hidupku tanpamu tak akan sama
Sadar bahwa, kau adalah anugrah terbaik yang bisa aku minta pada Allah

Kau yang mengubahku dari seonggok daging bergerak tak bermakna
Menjadi sebenar-benarnya manusia,
Mengajarkanku bahwa hidup ini bukan tentang AKU semata

Kau yang membantuku mengkristalkan banyak hikmah
Dibalik senyum dan nestapa, disela-sela musibah

Kau, anugrah Allah bernama Tarbiyah
Aku ingin Menua, membangun istana syurga, menghembus penghujung nyawa
Dengan kita yang tetap seperti ini, sejalan seirama :’)

by Nastarita
*penulis: @nastarabdullah on twitter :)
*Copas from http://www.pkspiyungan.org/2013/05/pks-anugerah-terindah-darinya.html

4 Mei 2013

Barakallahulakuma wa baraka 'alaykuma wa jama'a baynakuma fii khoir....

Barakallahulakuma wa baraka 'alaykuma wa jama'a baynakuma fii khoir....
Doa terindah dari para keluarga dan sahabat-sahabat tercinta, tentunya pembaca tau doa tersebut diucapkan untuk siapa.. ya untuk 2 orang yang sebelumnya tidak saling mengenal menjadi sepasang kekasih yang akan saling melengkapi. Rasa syukur yang tak terhingga terucap dari bibir ini, setelah Allah memperkenankan hambaNya mengucap akad di depan wali dan saksi tanpa ragu dan tanpa kelu, menggambarkan sebuah keyakinan atas pilihan Allah sebelum mengetahui lebih dalam mengenai apa yang telah Allah pilihkan.
Jika boleh review sedikit, semua di awali dari malam yang indah di teras rumah, sambil memandang langit yang kala itu dipenuhi bintang, pandanganku tak luput dari langit itu hingga satu bintang di antara banyak bintang, jatuh dan membentuk bayangan garis lengkung membuatku mengucapkan sebuah doa pada Sang Rabb. Memang tak ada dalam hadist bahwa moment itu adalah saat yang mustajab untuk berdoa.. hanya sekedar berdoa semoga Allah mengabulkan.. :)
ku alihkan pandanganku dari langit indah itu ke arah handphone yang sedari tadi aku genggam... seorang anak kecil mengirimiku pesan singkat, maka di mulailah obrolan dari tema ke tema sampai pada akhirnya ia menawarkanku untuk memulai sebuah "proses". yah.. proses menuju mitsaqon ghalizah.. bermodal biodata dan riwayat singkatku serta keyakinan pada Sang Rabb bahwa memulai sesuatu yang baik dengan cara yang baik untuk mendapatkan yang terbaik..
Sehari kemudian kudapati jawaban "ya" dari ikhwan yang tak ku tau namanya, rupanya, maupun kepribadiannya.. berkata ku dalam hati: ku ikuti saja jalan ini selama jalan ini adalah jalan yang Allah tunjuki untuk ku maka hanya ada satu yang membuatku mampu terus berjalan, yaitu keyakinanku pada Sang Rabb bahwa Dia selalu beri yang terbaik dan tepat untukku, sehari kemudian aku menerima sebuah email dari seorang ustadz yang tak lain ayah dari anak kecil itu.. email itu berisi biodata ikhwan.. ku baca kalimat demi kalimat tanpa ragu aku berkata dalam hati, yup.. insya Allah...
12-12-12, menjadi hari yang tak terlupakan.. karena hari itulah hari yang Allah pilih untuk mempertemukan kami dengan proses yang disebut ta'aruf. Ta'aruf dengan seorang laki-laki sholeh yang menyejukkan hati dan pandangan, tak banyak kata yang terucap pada saat itu.. hanya tampak wajah malu-malu disertai tawa kecil dari ustadz dan istri beliau.. sungguh Allah memudahkan setiap proses ini. Di jalan yang tepat, aku yakin akan menemukan yang tepat pula. Selang sehari setelah proses ta'aruf, ikhwan beserta ustadz beliau datang bersilaturrahim sekaligus menyampaikan maksud dan tujuannya datang berkunjung. ya.. khitbah.. khitbah pun dilakukan dirumah yang sangat sederhana ini, dengan di hadiri orang-orang terkasihku.. barakallahu.. lagi-lagi Allah memudahkan prosesnya dengan diterimanya pinangan tersebut. Penentuan hari dan tanggal pun mulai di bicarakan. Hingga sebulan kemudian Allah kembali mempertemukan ikhwan dan keluarga untuk sekedar membicarakan kelanjutan proses ini, dan setelah itu tak ada lagi pertemuan hingga akad itu tiba..
Kurang lebih 3 bulan menunggu sesuatu yang hanya Allah saja yang tau bagaimana kelanjutannya, hanya berdoa dan berusaha yang bisa kulakukan untuk hasil terbaik.. pengurusan administrasi, perlengkapan dan sebagainya mulai di lakukan.. lelah dan sangat lelah, fisik dan fikiran pun ikut lelah.. persiapan demi persiapan telah selesai dilakukan. tibalah hari dimana aku merasakan sesuatu yang akan hilang dan sesuatu yang akan datang. Ya aku merasa kehilangan masa-masa kebersamaanku dengan sahabat-sahabat, mungkin juga dengan keluarga, kehilangan kebebasan saat sedang memutuskan sesuatu untuk diri sendiri dan kehidupanku, kehilangan privasiku yang kelak harus aku bagi dengannya.. Namun semua itu akan tergantikan dengan datangnya seorang laki-laki sholeh yang telah Allah pilihkan untuk menemaniku, mendampingiku, membantuku dan bersamaku menjalani sisa usia yang Allah karuniakan ini..
Kini itulah yang kurasakan, bisa bersamanya dengan label halal melakukan banyak hal bersama.. lagi-lagi tak ada kata yang patut aku ucapkan melainkan ucapan syukur atas segala nikmat Allah ini.. Nikmat Allah yang telah mempertemukanku dengannya di jalan yang Insya Allah di ridhoi Allah, dengan cara yg ma'ruf untuk meraih keberkahan dan keridhoan Ilahi..
Semoga cinta ini akan selalu merekah dengan limpahan CintaNya yang dilandasi cinta karenaNya.
Semoga keberkahan dan ridho Ilahi selalu menyertai kami
Dan semoga kita ditetapkan dalam keistiqomahan dijalan Allah yg penuh cinta..
Aminn.. Allahumma Amin..


Hijrisy

1 Jan 2013

Muhasabah Akhir Tahun

Terlewati sudah 1 tahun perjalanan hidup di tahun 2012, banyak kisah, banyak cerita, ada duka dan ada tawa, ada tangis ada juga canda.
Ada bahagia...
Yang dari kesemuanya itu tidak akan mungkin bisa terlewati dengan baik tanpa pertolongan Allah, tanpa pendampingan dariNya. Teringat akan sebuah pesan singkat namun penuh makna dari seorang sahabat yang senantiasa mengingatkan untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi segala kondisi hidup.
Yah, Syukur dan Sabar, yang merupakan salah satu kunci dari sebuah keberhasilan. Tentunya tidak semudah yang kita ucapkan, butuh usaha yang keras, pengorbanan, dan pastinya butuh waktu.
Kini, tiba saatnya kita kembali dipertemukan dengan moment akhir tahun. Tahun baru katanya... Meski bukan tahun baru Islam, tetapi tidak ada salahnya kita menjadikan tahun baru masehi ini sebagai moment untuk bermuhasabah. Karena sebagai hamba Allah yang baik adalah hamba yang senantiasa memperbaiki diri dengan menyadari kesalahan-kesalahan di masalalu kemudian memperbaikinya. Seperti itulah manusia yang senantiasa ingin menjadi lebih baik hingga akhir hidupnya, karena hidup ini singkat guys, sayang banget kalau hanya di isi dengan hal-hal yang tidak manfaat.
Back to the topic,
2012, bagi anda, moment terburuk apa yang terjadi di tahun 2012 dan moment apa yang menjadi moment terindah sepanjang tahun 2012 ?
Apapun itu, semoga tetap menjadikan syukur dan sabar sebagai pendamping kita dalam menyikapi semuanya.. yang pasti moment terburuk itu jangan menjadikan diri kita seorang yang lemah tetapi justru menjadi lecutan buat kita untuk bergelar sebagai orang yang tangguh dengan tetap menyertakan sabar sebagai rasa berserah diri kita pada Sang Rabb.. begitu juga dengan moment terindah, jadikan moment itu sebagai pemicu buat kita untuk terus menjadi seorang yang lebih baik tentunya disertai dengan rasa syukur sebagai bukti cinta kita pada Sang Rabb.. Karena hanya kepadaNya kita patut bersyukur dan bersabar sebab semua yg kita dapatkan adalah atas seizinnya..
Bagi penulis, 2012 adalah tahun penuh warna, karena banyak cerita, banyak kisah yang di iringi canda, tawa, bahkan duka. Dan penulis menganggap semua itu adalah warna kehidupan, karena dunia ini tidak akan indah tanpa warna. Warna kehidupan yang menjadikan diri ini lebih memiliki arti..
Menjelang pergantian tahun, mari kita renungkan kembali perjalanan hidup kita sepanjang tahun 2012 ini, karena hanya kita yang tau mana yang harus di delete, mana yang harus di save, mana yang harus di upgrade dan mana yang harus di format.
2013 adalah waktu yang Allah anugerahkan untuk kita gunakan sebaik mungkin, setting kembali hidup kita setelah di format, buka kembali file yang telah kita save untuk kita eksekusi, dan running apa yang menjadi prioritas di tahun 2013. Pastikan semua telah terinstal untuk memudahkan kita mengeksekusi program apa saja yang telah kita rancang. Kemudian tekan enter saat semua telah siap termasuk diri kita yang harus dipersiapkan untuk segala kemungkinan yang terjadi, karena ctrl+z tidak berlaku disini.. 
And the last, kembali mengingatkan untuk senantiasa bermuhasabah... menyertakan sabar dan syukur dalam setiap kondisi kehidupan. be a good person in this year and have a nice life, hope Allah always give the best for our life ^_^

22 Des 2012

Selamat Hari Ibu... Love you so much Mom.. ^_^

Aku tak pernah tau seberapa beratnya bebanmu saat ku masih berada dalam rahim mu
Aku juga tak pernah tau seberapa sakitnya saat kau berusaha menghadirkanku ke dunia ini
Dan aku juga tak tau seberapa sulitnya engkau mendidik dan membesarkanku hingga kini
Bahkan aku tak pernah tau setiap ucap yg terkadang menyakitimu selama ini
Ibu...
Kini ku telah dewasa,
Ku bukan lagi anak kecil yang menggemaskan,
Bukan pula aku yang banyak bertanya tentang kehidupan yang dulunya tak ku pahami
Aku bukan lagi seorang anak yang merengek-rengek saat minta di belikan mainan
Bukan pula aku yang selalu ingin kau buat cantik saat berangkat sekolah
Ibu...
Kini ku telah dewasa,
Dengan segala kasih sayang dan Ilmu yang kau berikan
Dengan segala cinta yang kau curahkan untuk ku
Hingga ku ada disini,
Ibu...
Kini ku telah dewasa,
Tapi masih saja aku sering menyusahkanmu
Masih saja belum bisa bahagiakanmu
Bahkan untuk membalas semua jasamu aku tak mampu
Ibu...
Maaf kan untuk segala khilafku
Maaf kan atas segala kata yang sering menyakitimu
Ibu...
Dengan apa aku bisa membalas semua jasamu?
Dengan apa aku bisa membayar semua pengorbananmu?
Rasanya tak ada yang bisa membalasnya kecuali Allah..
Maka Untukmu Ibu..
Ku lantunkan senandung doa pada Sang Rabb
Ya Allah,,,
Anugerahkanlah kesehatan dan umur yang panjang untuk Ibuku
Limpahkan lah kasih sayang Mu pada Ibu sebagaimana beliau melimpahkan kasih sayangnya pada kami
Ampunilah dosa - dosanya dan lindungilah dimanapun ia berada
Karunikanlah nikmat Iman dan Islam dalam diri Ibu, agar ia senantiasa mengingat dan cinta Pada Mu
Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa
Dan hari ini ku ucapkan untuk mu wahai bidadariku...
"Selamat hari ibu untukmu juga untuk semua Ibu di dunia ini, Semoga Allah senantiasa menaungi cintaNya untukmu Ibu"


7 Des 2012

Ketika Lelah Mulai Menyapa..

Lelah,
Hanya kata itu yang terlontar ketika semua terasa berat,
Hanya kata itu yang terucap ketika semua terasa sulit,
Lelah,
Entah kapan terakhir kali ia menyapaku,
Dan kini ia kembali hadir dan mulai menampakkan dirinya tepat dihadapanku,
Ingin rasanya tidak melihat hadirnya lelah itu
Ingin rasanya tidak mengenal sosok lelah itu
Lelah,
Kenapa dia harus hadir di kala semua butuh untuk diselesaikan?
Kenapa dia harus hadir di saat Allah sedang meletakkan amanah besar di pundak ini?
Kenapa dia harus hadir di saat yang sangat tidak tepat?
Ataukah diri ini yang terlalu lemah sehingga tak mampu menghindarinya?
Ataukah lelah itu memang ingin bersilaturahim?
Atau ia hanya sekedar datang dan memintaku sedikit menyisahkan waktu agar lebih dekat denganNya, untuk bisa berdua denganNya
Hmm... Entah apa maksud kehadirannya...
Lelah,
Jika itu sebuah pertanyaan, Maka jawabnya adalah "istirahat"
Jika lelah itu menyapa fisik, "istirahat" mungkin menjadi jawaban yang tepat,
Jika lelah itu menyapa fikiran, maka "bergeraklah" jawabannya,
Bergerak mengaplikasikan segala kebaikan yang selama ini hanya bertengger dalam fikiran.
Lalu, jika yang lelah itu adalah hati? apa yang menjadi jawabannya? dan apa sebenarnya yang menjadikan hati itu lelah? apakah hati bekerja seperti bekerjanya fisik? atau ia seperti fikiran yang lelah untuk menghadirkan berbagai ide dan solusi untuk meyeimbangkan kerja fisik? hati yang lelah mungkin disebabkan karena fisik dan fikiran yang juga merasakan lelah..
Namun, terlepas dari semua itu, hati tetap butuh istirahat, bagaimana caranya?,
ketika fisik, fikiran dan hati mulai merasakan lelah, maka cobalah untuk sedikit berisitrahat.. berikan hak bagi tubuh, fikiran dan juga hati untuk beristirahat sesuai dengan porsinya masing-masing.
untuk fisik dan fikiran mungkin semua pembaca tau bagaimana menghadapinya. Tetapi ketika hati disapa oleh sosok lelah, maka berdua denganNya lah yang tepat dilakukan untuk sedikit mengurangi rasa lelah itu, terlepas dari apapun penyebabnya. Karena Dialah yang maha membolak-balikkan hati, Dia yang menggenggam hati - hati kita, maka hanya dengan mengingatNya hatipun menjadi tenang,. Sebenarnya simple sekali jawabannya.. tapi terkadang kita di buat sulit untuk memaknainya sehingga sulit bagi kita untuk bisa menyelesaikannya. Sedikit ungkapan mungkin untuk tulisan kali ini,
Lelah...
Ia muncul sesuka hati, mempengaruhi diri...
Ia bagaikan air yang begitu cepat mengaliri ke seluruh tubuh hingga ke hati
Ia bagaikan virus yang bisa merusak segala komponen dalam diri
Lelah...
Siapa yang bisa menghindarinya ketika ia mulai menyapa?
Siapa yang bisa mengusirnya ketika ia mulai hadir?
Siapa yang bisa melawannya ketika ia mulai memasuki ruang kita?
Siapa lagi kalau bukan diri kita sendiri?
Dan ketika lelah pun mulai menyapa...
Mulai tampak di raut wajah...
Mulai merasuki raga...
Dan sebagai hamba Allah, tak patutlah kita menyerah...
Tapi kita bisa mencegah atau pun mengobati...
Jika....
Lelah fisik yang menyapa
Beristirahatlah
Jika...
Lelah fikiran yang menyapa
Bergeraklah
Jika
Lelah Hati yang menyapa
Kembali lah PadaNya
Kembalilah pada Sang Pemilik hati...
Biarkan Dia yang mengobati...
Karena Dia Maha Memiliki....
===============================================================
HambaMu yang mulai disapa oleh hadirnya lelah...